Sabtu, 20 Agustus 2011

Renungan Kemerdekaan


Pakaian kebangsaan kita, harga diri nasionalisme kita telah disobek-sobek oleh tradisi penindasan, oleh tradisi kebodohan, oleh tradisi keserakahan yang tidak habis-habis. Harus kita benahi lagi, harus kita jahit lagi, harus kita utuhkan kembali agar supaya kita siap untuk menghadap ke masa depan.

Memang kita sudah terbangun dari tidur, sudah bangun, sudah bangkit sesudah tidur terlalu nyenyak selama 30 tahun atau mungkin lebih lama dari itu. Kita memang sudah bangkit. Beribu-ribu kaum muda, berjuta-juta rakyat sudah bangkit keluar rumah dan memenuhi jalanan. Membanjiri sejarah dengan semangat menguak kemerdekaan yang terlalu lama diidamkan. Akan tetapi, mungkin karena terlalu lama kita tidak merdeka, sehingga sekarang kita tidak begitu mengerti bagaimana mengerjakan kemerdekaan. Sehingga tidak paham beda antara demokrasi dengan anarki.

Terlalu lama kita tidak boleh berpikir. Lantas sekarang hasil pikiran kita keliru. Sehingga tidak sanggup membedakan mana asap, mana api, mana emas, mana loyang, mana nasi dan mana tinja.

Telalu lama kita hidup di dalam ketidakmenentuan nilai. Lantas sekarang semakin kabur pandangan kita atas nilai-nilai yang berlaku di dalam diri kita sendiri. Sehingga yang kita jadikan pedoman kebenaran hanyalah kemauan diri kita sendiri, nafsu kita sendiri, kepentingan kita sendiri.

Terlalu lama kita hidup didalam kegelapan sehingga kita tidak mengerti bagaimana melayani cahaya. Sehingga kita tidak becus mengurusi bagaimana cahaya terang. Sehingga di dalam kegelapan gerhana bulan yang membikin kita buntu sekarang kita junjung-junjung penghianat dan kita buang para pahlawan. Kita bela kelicikan dan kita curigai ketulusan.

Kita memang sudah bangun, sudah bangkit bahkan kaki kita sudah berlari kesana-kemari. Namun akal pikiran kita belum, hati nurani kita belum. Kita masih merupakan anak-anak dari orde yang kita kutuk dimulut namun ajaran-ajarannya kita biarkan hidup subur dalam aliran darah dan jiwa kita.

Kita mengutuk perampok dengan cara mengincarnya untuk kita rampok balik. Kita mencerca maling dengan penuh kedengkian kenapa bukan kita yang maling. Kita mencaci penguasa lalim dengan berjuang keras untuk bisa menggantikannya. Kita membenci para pembuat dosa besar dengan cara setan yakni melarangnya untuk insaf dan bertobat. Kita memperjuangkan gerakan anti penggusuran dengan cara menggusur. Kita menolak pemusnahan dengan merancang pemusnahan-pemusnahan. Kita menghujat para penindas dengan riang gembira sebagaimana iblis yakni kita halangi usahanya untuk memperbaiki diri.

Sesudah ditindas kita mempersiapkan diri untuk menindas. Sesudah diperbudak kita siaga untuk ganti memperbudak. Sesudah dihancurkan kita susun barisan untuk menghancurkan.

Yang kita bangkitkan bukan pembaruan kebersamaan melainkan asiknya perpecahan. Yang kita bangun bukan nikmatnya kemesraan tapi mengelegaknya kecurigaan. Yang kita rintis bukan cinta dan ketulusan melainkan prasangka dan fitnah. Yang kita perbaharui bukan penyembuhan luka melainkan rencana-rencana panjang untuk menyelenggarakan perang saudara. Yang kita kembang suburkan adalah kebiasaan memakan bangkai saudara-saudara kita sendiri.

Kita tidak memperluas cakrawala dengan menabur cinta melainkan mempersempit dunia kita sendiri dengan lubang-lubang kebencian dan iri hati.

Disadur dari Penyembuh Bangsa dan Menyorong Rembulan (Emha Ainun Nadjib)

1 komentar:

ThoraCiamik mengatakan...

indonesia bnyk korupsi meski da kpk,,,

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Lady Gaga, Salman Khan